Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer Bumi yang paling penting.

100 Keping Kayu Ilegal Disita

Kategori : KPH UPTD WIL V
Senin, 05 Februari 2018 - Oleh dlhk

Personel Pamhut dari BKPH Blangpidie mengamankan 4 kubik atau sekitar 100 keping kayu berbagai ukuran hasil ilegal logging yang disita dalam operasi di Km 17-Km 20 lintasan Babahrot (Ie Mirah), Kabupaten Abdya-Terangun, Kabupaten Gayo Lues, Sabtu (3/2).

BLANGPIDIE - Perambahan Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan illegal logging pada lintas Babahrot, Aceh Barat Daya (Abdya) menuju Terangun, Gayo Lues (Galus), makin marak. Tim dari Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Blangpidie, Aceh Barat Daya (Abdya) menyita 100-an keping kayu olahan berbagai ukuran dalam operasi ke kawasan itu, Sabtu (3/2).

Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah V, T Kamaruzzaman Syah yang dihubungi Serambi, kemarin, mengatakan, operasi itu melibatkan 35 anggota pengamanan hutan (Pamhut) dari BKPH Blangpidie, termasuk Kepala Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Babahrot dan Setia. Operasi tersebut dipimpin Kepala BKPH Blangpidie, Syukramizar.

Menurut Kamaruzzaman, penebangan liar dan pemukaan jalan dalam kawasan HPT merupakan tindakan melanggar undang-undang dan Peraturan Gubernur Nomor 77 Tahun 2017. Sebab, HPT tak boleh ditembang atau dibuka sebagai lahan perkebunan, kecuali ada izin.

Operasi dilakukan mulai dari Km 17 (jembatan Pucok Krueng Sapi) sampai kaki Gunung Tikus (Km 20) atau arah perbatasan Abdya-Galus. “Di lokasi kita temukan pembukaan jalan dalam kawasan hutan produksi terbatas menggunakan alat berat,” kata Syukramizar saat dihubungi, Minggu (4/2) sore.

Saat ditelusuri jalan itu, sebutnya, ditemukan sekitar 100 keping (4 kubik) kayu olahan dengan berbagai ukuran. Kayu itu, menurutnya, merupakan hasil penebangan ilegal pada tiga titik lokasi di atas gunung dengan ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut.

Dikatakan, tim juga menemukan barang bukti lain yaitu alat katrol, tali kabel, dan satu sepeda motor yang digunakan pelaku untuk mengambil kayu hasil olahan. Namun, pelaku tak ditemukan di lokasi. “Semua barang bukti sudah dibawa ke Kantor BKPH Blangpidie,” kata Syukramizar juga Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) tersebut.

Informasi diperoleh Serambi, perambahan HPT di lintas Babahrot-Terangun melalui rangkaian Bukit Barisan itu berlangsung tidak terkendali sejak beberapa bulan terakhir. Hutan milik negara itu dirambah secara besar-besaran. Selain diambil kayu, juga dibuka lahan untuk kebun.

Kepala UPTD KPH Wilayah V melalui Kepala BKPH Blangpidie, Syukramizar, juga mengatakan, berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan di lokasi, pihaknya menduga penebangan hutan di lokasi Km 17-20 Jalan Babahrot-Terangun dimodali oknum tertentu.

Sebagai bukti, sebutnya, pelaku sanggup mengerahkan alat berat untuk membuka jalan dalam kawasan hutan produksi terbatas (HPT). Selain itu, pelaku bisa mengambil kayu jenis keras dari jurang yang dalam dan terjal. “Bila tak didukung modal besar dan peralatan yang memadai, tak mungkin mereka sanggup melakukan kegiatan tersebut,” ungkap Syukramizar.

Dikatakan, kayu hasil olahan dikeluarkan dari lokasi menggunakan truk yang beroperasi pada malam hari sampai Subuh. Ia memperkirakan, masih ada kayu ilegal di kawasan HPT tersebut yang belum ditemukan karena medannya sulit dijangkau oleh tim yang melakukan patroli.

“Kendati prasarana dan sarana yang masih terbatas, kami tetap berupaya maksimal menertibkan perambahan hutan di lintas Babahrot-Terangun,” pungkas Syukramizar.(nun)

 

Sumber : Serambi Indonesia (http://aceh.tribunnews.com/2018/02/05/100-keping-kayu-ilegal-disita)